Perusahaan Pembiayaan Cermati Kenaikan Bunga Pinjaman

Perusahaan pembiayaan masih mencermati dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-Days Repo Rate). Presiden Direktur PT Astra Sedaya Finance, Siswadi, mengatakan perusahaan tidak akan langsung merespons dengan ikut menaikkan suku bunga pembiayaan. “Suku bunga naik tergantung kekuatan perusahaan masingmasing,” ujarnya kemarin.

Menurut Siswadi, suku bunga acuan yang sudah ada di posisi 5,25 persen tidak secara langsung berdampak terhadap kinerja perusahaan. Dengan posisi pembiayaan bermasalah (non-performing financing) Astra Sedaya berada di bawah satu persen, kata dia, perusahaan memilih menunggu kondisi pasar.

baca juga : http://carrefours-moveo.org/mengenal-kelebihan-dari-genset-yanmar/

Namun, bila asumsi suku bunga terus naik, tidak tertutup kemungkinan industri akan mengikuti. “Saat ini belum terlalu sensitif (kebijakan kenaikan suku bunga),” ucap Siswadi.

Ihwal strategi ke depan, Siswadi menyatakan perusahaan akan bergerak konservatif, yaitu dengan meningkatkan layanan terhadap nasabah. Selain itu, perusahaan akan terus mengikuti perkembangan suku bunga BI Rate di pasar. Siswadi optimistis pembiayaan akan tumbuh pada 2018.

Keyakinannya didukung oleh penjualan kendaraan bermotor secara nasional atau domestik yang masih naik. “Marketnya (penjualan kendaraan bermotor) masih bagus,” kata dia. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat sepanjang semester I 2018 penjualan kendaraan roda empat naik menjadi 553.779 unit. Jumlah tersebut naik dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 533.858 unit.

Begitu juga dengan distribusi roda dua, dari Januari hingga Mei 2018 penjualan mengalami kenaikan. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia mencatat distribusi penjualan kendaraan roda dua menjadi 2.627.719 unit. Pada periode Januari-Mei 2017, total distribusi sepeda motor sebanyak 2.321.079 unit.

Hingga semester I 2018, total pembiayaan yang sudah disalurkan oleh Astra Sedaya mencapai Rp 13,5 triliun. Perusahaan yang dikenal dengan nama Astra Credit Companies itu mengejar target penyaluran pembiayaan sebesar Rp 26 triliun. “Harapannya, ada kenaikan pertumbuhan lima sampai tujuh persen,” kata Siswadi.

Langkah berbeda dipilih PT BCA Finance. Perusahaan berniat menaikkan bunga pinjaman pada Agustus 2018 sebesar 0,25 persen untuk semua tenor. Direktur Utama BCA Finance, Roni Haslim, menyatakan hal itu dilakukan karena bunga pinjaman PT Bank Central Asia Tbk yang akan naik. “Ini terpaksa kami lakukan karena pihak bank menaikkan cost of fund bunga pinjaman kami,” kata dia. Roni optimistis target penyaluran pembiayaan perusahaan tidak akan terpengaruh oleh naiknya bunga pinjaman. Syaratnya, kata dia, perusahaan pembiayaan lainnya ikut menaikkan bunga pinjaman.

Sepanjang semester I 2018, BCA Finance sudah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 17,5 triliun. Realisasi itu sudah menyentuh 53,85 persen dari target Rp 32,5 triliun sepanjang 2018. Direktur Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, menilai kinerja industri pembiayaan akan berat pada tahun ini.

Selain adanya kenaikan suku bunga acuan, ia menilai penjualan kendaraan bermotor cenderung belum tumbuh. “Saya menilai industrinya akan melakukan pembenahan dan tidak ekspansif,” kata dia. Di sisi lain, Hans memprediksi perbankan akan berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan ke multifinance.

Ia menilai kehadiran Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 9 dan 12 bulan membuat perbankan berhati-hati menyalurkan kredit. “Bank kalau ada dana akan dialihkan ke SBI, dan potensi (penyaluran) kredit bisa turun,” ucap Hans.